Short Story
Kita mungkin tak bisa merawat 150 kucing. Tapi kita bisa bantu orang yang setiap hari menyelamatkan mereka. Karena tanpa uluran tangan kita, kucing-kucing ini bisa kembali ke jalan. Kembali sekarat. Kembali kelaparan. Bahkan mati dalam diam. Tapi dengan bantuan kita, mereka bisa punya tempat berlindung. Bisa makan. Bisa sembuh, dan yang paling penting mereka bisa hidup.
Bukti Cinta Seorang Mualaf – Rawat 150 Kucing Terlantar
-
Rp5.000.000
Target -
Rp0
Terkumpul -
0
Sisa waktu -
Waktu Tertera
Berhenti Sampai
Info Campaign
“Saya nggak bisa lihat kucing sakit dan dibiarkan. Kalau saya bisa bantu, ya saya bantu, meski harus pinjam uang, meski harus saya jual barang-barang saya” lirih seorang relawan dengan hati nurani merawat kucing terlantar.
Namanya Pak Natanael, setiap hari keliling bawa kotak kecil berisi vitamin dan makanan kucing, menyusuri pasar, gang sempit, hingga jalan raya. Bukan untuk dirinya sendiri, tapi untuk makhluk-makhluk kecil yang sering kita abaikan, kucing-kucing sakit dan terlantar yang bahkan tak bisa meminta tolong.
Sudah hampir 10 tahun, beliau dan istrinya mencurahkan hidupnya untuk menyelamatkan kucing-kucing jalanan. Bukan kucing lucu nan sehat yang banyak dipelihara orang. Tapi kucing yang buta matanya. Pincang karena tertabrak. Rahangnya patah. Badannya penuh luka bakar. Bahkan ada yang disiram air panas.
Bagi sebagian orang, itu mungkin “kucing sisa.” Tapi bagi Pak Natanael, mereka tetap berharga. Tetap pantas diselamatkan.
Kini, ada lebih dari 150 ekor kucing yang dirawat di rumah kecilnya. Rumah itu sudah seperti shelter darurat. Tiap hari, ia dan istri memberi makan, membersihkan luka, menyuntik vitamin, mengantar ke klinik, bahkan menggendong satu per satu untuk disuapi kalau tak bisa makan sendiri.
Biaya bulanannya bisa mencapai Rp20–40 juta, tergantung berapa banyak kucing yang harus dibawa ke dokter. Tidak ada gaji tetap, bahkan mereka rela berutang, bahkan menjual barang pribadi agar kucing-kucing itu tidak kelaparan.
Pernah suatu hari, seekor kucing bernama Oyen datang dalam kondisi mengenaskan. Kakinya kemungkinan besar ditebas orang. Darahnya masih segar, matanya penuh ketakutan. Dalam kondisi tanpa uang, Pak Natanael tetap membawanya ke klinik. Katanya, “Kalau saya tunggu, Oyen bisa mati.”
Lalu ada Boba, kucing yang rahangnya remuk karena tertabrak motor. Tidak bisa makan. Tidak bisa menjilat. Harus dioperasi agar bisa hidup. Dan lagi-lagi, dengan kondisi ekonomi seadanya, Pak Natanael menyelamatkan satu nyawa lagi.
Yang luar biasa, Pak Natanael adalah seorang mualaf. Sejak mengenal Islam, ia percaya bahwa setiap makhluk hidup berhak dilindungi. Dan merawat kucing menjadi jalannya untuk mencintai ciptaan Tuhan.
“Saya nggak tahu nanti amalan saya apa yang diterima. Tapi kalau saya bisa selamatkan mereka, mungkin itu jadi ladang pahala saya,” ucapnya lirih.
Namun semua ini tak bisa dijalani sendirian. Rumahnya sudah penuh. Kucing terus berdatangan. Biaya makin membesar. Dan tak semua orang mau peduli pada kucing jalanan yang sakit dan cacat.
Teman baik..
Kita mungkin tak bisa merawat 150 kucing. Tapi kita bisa bantu orang yang setiap hari menyelamatkan mereka. Karena tanpa uluran tangan kita, kucing-kucing ini bisa kembali ke jalan. Kembali sekarat. Kembali kelaparan. Bahkan mati dalam diam. Tapi dengan bantuan kita, mereka bisa punya tempat berlindung. Bisa makan. Bisa sembuh, dan yang paling penting mereka bisa hidup.
Disclaimer : Donasi yang terkumpul akan digunakan untuk memenuhi segala kebutuhan di Shelter Pak Natanael. Serta untuk penerima manfaat serupa lainnya yang serupa dibawah naungan yayasan global sedekah movement

